Saat Kesederhanaan Cerita Melahirkan Keindahan Sastra

Oleh: Ni Made Satyawati MEMBACA karya sastra ibarat berkaca pada realita. Ia tidak selamanya menuntut kerumitan diksi demi bisa menyentuh hati; terkadang cerita yang memotret kehidupan apa adanya justru meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam. Semangat membumikan sastra inilah yang ingin disampaikan oleh I Gusti Ayu Emma Suryani melalui antologi cerpennya yang berjudul Bintang Berpijar….

Read More

“Satai” Menurut KBBI, “Sate” Menurut Kebiasaan

Oleh: Ni Kadek Intan Karunia Dewi SALAH satu kuliner yang mudah ditemukan di Bali adalah sate, makanan berbahan daging yang dipanggang dan disajikan dengan beragam bumbu khas. Kehadirannya begitu dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga papan nama warung sate mudah dijumpai di berbagai sudut jalan. Papan nama yang menunjukkan keberadaan tempat makan ini  pun sering terlihat…

Read More

Ketika “Rejeki” Menjadi Kebiasaan yang Keliru

Oleh: Ni Komang Dian Yuliasih DI berbagai daerah, masih banyak ditemukan papan nama usaha yang menggunakan kata “Rejeki”, termasuk pada papan nama toko “Sumber Rejeki”. Penulisan  ini tidak sesuai dengan ejaan baku bahasa Indonesia. Kesalahan ejaan ini terdapat pada papan toko yang menjadi sarana informasi bagi pelanggan dan masyarakat umum yang melintas di sekitar lokasi….

Read More

Anda Yakin Paham Arti “Acuh”? Ternyata Banyak yang Keliru

Oleh: Ni Wayan Suwini BAHASA selalu berkembang seiring dengan cara masyarakat menggunakannya. Namun, dalam perkembangannya, banyak ditemukan kata yang mengalami pergeseran makna di tengah masyarakat. Bahkan, ada beberapa kata yang maknanya dipahami secara terbalik karena penggunaannya sudah dianggap lumrah oleh masyarakat. Contohnya adalah kata “acuh” dan “hirau”. Di media sosial, penggunaan kata “hirau” dan “hiraukan”…

Read More

“Apotek”, Bukan “Apotik”: Pentingnya Pembinaan Bahasa di Ruang Publik

Oleh: Intan Kharisma Putri MENGAPA kata “apotik” masih sering digunakan di ruang publik? Padahal bentuk bakunya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “apotek”. Kesalahan ini terlihat pada papan nama toko obat, spanduk usaha, hingga media promosi. Meskipun hal ini terlihat sederhana, penggunaan kata tidak baku di tempat umum dapat memengaruhi pemahaman masyarakat mengenai penggunaan…

Read More

Kesalahan Penulisan “Foto Copy” di Lingkungan Masyarakat

Oleh: Ni Kadek Ayu Sumita Dwi Anjani PEMAKAIAN bahasa Indonesia di ruang publik masih sering melenceng dari kaidah kebahasaan. Salah satu kesalahan yang cukup umum dan jarang disadari adalah pada papan nama usaha, banner, maupun spanduk jasa penyalinan dokumen dengan tulisan “Foto Copy”. Masyarakat jarang menyadari bahwa bentuk baku kata “Foto Copy” adalah “Fotokopi” sesuai…

Read More

Pascasarjana, Bukan Pasca Sarjana

Oleh: Intan Kharisma Putri DALAM praktik sehari-hari masih sering ditemukan kesalahan penggunaan kata, baik di ruang publik, lembaga pendidikan, maupun instansi resmi. Salah satu contoh yang kerap dijumpai adalah penulisan “pasca sarjana” yang dipisah, padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk bakunya adalah “pascasarjana” yang ditulis serangkai. Kata “pasca” merupakan bentuk terikat dalam bahasa…

Read More

“Mi” atau “Mie”, Mana yang Benar?

Oleh: Intan Karunia Dewi BANYAK spanduk warung makan masih menggunakan istilah “mie ayam”. Padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang tepat adalah “mi ayam”. Kata “mi” merupakan bentuk baku, sedangkan “mie” termasuk bentuk tidak baku. Kesalahan tersebut termasuk kesalahan morfologi karena berkaitan dengan bentuk dan struktur kata. Penambahan huruf “e” pada kata “mie”…

Read More

Membiasakan Penggunaan Kata Baku “Praktik Dokter”

Oleh: Ni Kadek Ayu Sumita Dwi Anjani MENGAPA tulisan “praktek dokter” masih sering ditemukan pada papan nama klinik, rumah sakit, maupun tempat pelayanan kesehatan lainnya? Padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk baku yang benar adalah “praktik dokter”. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar masih perlu mendapatkan perhatian di…

Read More

Menjembatani Teori dan Praktik Penyiaran Radio

Oleh: Dewa Ayu Chintya Dwi Mahayani DALAM era globalisasi dan perkembangan teknologi komunikasi yang pesat, pelestarian bahasa dan budaya daerah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di tengah kondisi tersebut, peran media penyiaran publik menjadi sangat strategis dalam menjaga warisan budaya lokal tetap hidup dan relevan. Magang merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi…

Read More