Di Tengah Perubahan Zaman, Bahasa Bali Dituntut Tetap Relevan

DENPASAR – Perubahan zaman tidak seharusnya membuat bahasa Bali kehilangan ruang hidup. Sebaliknya, bahasa Bali perlu terus digunakan, diteliti, dikembangkan, dan dihadirkan dalam ruang-ruang baru agar tetap relevan bagi generasi muda.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Widyā Wacana: Kuliah Tamu yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa Bali bersama Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, 9 September lalu.

Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional itu berlangsung secara luring di Auditorium Redha Gunawan Lantai III Kampus UPMI Bali. Mengangkat tema “Bahasa Bali: Dimensi Kesejarahan, Perubahan, dan Isu Kepunahan”, kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi antara akademisi dan guru bahasa Bali mengenai keberlanjutan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Wakil Rektor I UPMI Bali, Dr. Ida Ayu Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum., mengatakan bahasa merupakan sesuatu yang dinamis dan terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Namun, dinamika tersebut perlu diimbangi perhatian terhadap keberadaan bahasa daerah yang berpotensi semakin ditinggalkan generasi muda.

“Bahasa akan hidup jika digunakan, akan kuat jika diteliti, dan memiliki masa depan jika bangga menggunakannya,” ujarnya.

Menurutnya, teknologi, media sosial, serta karya seni dan sastra dapat dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk membuat bahasa Bali tetap tumbuh dan relevan di tengah perubahan zaman.

Narasumber Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum., bersama moderator Dr. Ni Wayan Sumitri, M.Si.

Sementara itu, narasumber Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum., mengajak peserta melihat bahasa Bali masa kini melalui perjalanan sejarahnya. Menurutnya, pemahaman terhadap perkembangan bahasa Bali tidak dapat dilepaskan dari jejak masa lalu, termasuk tuturan lisan yang masih digunakan masyarakat hingga kini serta peninggalan tertulis berupa guratan dan tatahan aksara pada berbagai dokumen.

Dalam perjalanannya sejak abad IX hingga XXI, bahasa Bali menunjukkan sifat terbuka dengan menyerap sekaligus menyesuaikan pengaruh bahasa-bahasa luar sesuai kebutuhan masyarakat. Perubahan juga terjadi pada berbagai lapisan, mulai bunyi atau fonologi, tata bahasa, hingga sistem kesantunan atau sor-singgih.

Di tengah perubahan tersebut, upaya mencegah bahasa Bali bergerak menuju kepunahan membutuhkan keterlibatan bersama. Pemerintah, guru, penyuluh bahasa, kreator konten, akademisi, dan masyarakat memiliki peran dalam menjaga keberlangsungannya.

“Karena itu, pelestarian bahasa Bali tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk lama. Bahasa Bali perlu terus digunakan, diteliti, dikembangkan, dan dihadirkan dalam ruang-ruang baru yang dekat dengan generasi muda,” demikian Eka Guna Yasa. (HUMAS)

Widyā Wacana: Kuliah Tamu “Bahasa Bali: Dimensi Kesejarahan, Perubahan, dan Isu Kepunahan”,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *