Anda Yakin Paham Arti “Acuh”? Ternyata Banyak yang Keliru

Oleh: Ni Wayan Suwini

BAHASA selalu berkembang seiring dengan cara masyarakat menggunakannya. Namun, dalam perkembangannya, banyak ditemukan kata yang mengalami pergeseran makna di tengah masyarakat. Bahkan, ada beberapa kata yang maknanya dipahami secara terbalik karena penggunaannya sudah dianggap lumrah oleh masyarakat. Contohnya adalah kata “acuh” dan “hirau”. Di media sosial, penggunaan kata “hirau” dan “hiraukan” cukup mudah ditemukan. Banyak pengguna menulis kalimat seperti “Hiraukan saja omongan orang”. Menariknya, sebagian besar penutur menggunakan kata tersebut dengan maksud “tidak peduli” atau “abaikan”. Beberapa contoh yang ditemukan dalam penggunaan media sosial X, ada beberapa cuitan yang salah dalam penggunaan kata hirau, seperti “Ngopiiiii sendirii lagii. Hiraukan saja perut gw yg menonjol itu”, “Hiraukan saja Vaa, beliau ini memang suka tantrum”.

Padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, kata “hirau” berarti peduli, mengindahkan, atau memperhatikan. Dengan demikian, “menghiraukan” berarti memedulikan atau memperhatikan sesuatu, berarti mereka bermaksud untuk memedulikan hal-hal yang seharusnya tidak dipedulikan? Oleh karena itu, kalimat “Jangan hiraukan komentar mereka” sebenarnya bermakna “jangan pedulikan komentar mereka”. Namun, ketika seseorang mengatakan “hiraukan saja”, maknanya justru menjadi “pedulikan saja” atau “perhatikan saja”.

Hal serupa juga terjadi pada kata “acuh”. Dalam penggunaan sehari-hari, masyarakat sering menganggap kata “acuh” berarti tidak peduli. Ungkapan seperti “dia acuh terhadap lingkungan sekitar” sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak memiliki kepedulian. Padahal, KBBI menjelaskan bahwa kata “acuh” bermakna peduli, mengindahkan, atau memperhatikan. Kesalahpahaman tersebut kemudian melahirkan sebuah kebiasaan dengan bentuk yang sebenarnya lebih tepat, yaitu “tidak acuh”. Secara makna, “tidak acuh” berarti tidak peduli. Akan tetapi, karena penggunaan yang keliru telah berlangsung dalam waktu yang lama dan digunakan oleh banyak orang, masyarakat akhirnya lebih mengenal “acuh” sebagai lawan dari peduli.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa tidak selalu terjadi karena kurangnya pengetahuan. Dalam banyak kasus, masyarakat mengikuti bentuk yang paling sering mereka dengar dan baca yang kemudian mereka anggap lumrah. Ketika penggunaan yang keliru terus berulang di media sosial, lingkungan pergaulan, maupun media massa, bentuk tersebut perlahan dianggap sebagai sesuatu yang benar.

Di sinilah pentingnya pembinaan bahasa Indonesia. Pembinaan bahasa tidak hanya bertujuan memperbaiki kesalahan, tetapi juga memperkenalkan kembali makna kata yang mulai terlupakan bagi sebagian masyarakat. Melalui pemahaman yang tepat mengenai kata “acuh” dan “hirau”, diharapkan masyarakat dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih cermat dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Bahasa Indonesia memiliki kekayaan kosakata yang luar biasa. Oleh karena itu, mengenal makna asli suatu kata bukan sekadar persoalan benar atau salah, melainkan bentuk penghargaan terhadap bahasa yang kita gunakan setiap hari. Dengan memahami bahwa “acuh” berarti peduli dan “hirau” berarti memperhatikan, kita dapat melihat bahwa terkadang sebuah kata tidak berubah maknanya, tetapi pemahaman kitalah yang perlahan bergeser. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *