Menjaga Martabat Riset di Tengah Godaan Publikasi Instan

DENPASAR – Ruang Paseban di Kampus Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali tampak lebih hidup dari biasanya, Selasa, 3 Februari 2026. Selama empat jam penuh, ruang ini menjadi saksi pertemuan gagasan, kegelisahan, sekaligus harapan para akademisi yang resah melihat wajah publikasi ilmiah di era digital. Bekerja sama dengan Penerbit Pustaka Larasan, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UPMI menggelar workshop bertajuk “Dari Riset ke Buku: Workshop Penulisan Buku Monograf dan Buku Ajar Berdasarkan Hasil Riset”.

Di tengah derasnya arus Artificial Intelligence (AI) dan tuntutan administratif dunia kampus, workshop ini hadir bukan sekadar sebagai kelas teknis menulis, melainkan pernyataan sikap. Sebuah ajakan untuk kembali menempatkan riset sebagai jantung karya ilmiah, bukan sekadar bahan mentah yang dipoles cepat demi angka kredit.

Narasumber tunggal, Slamat Trisila, S.Sos., M.Si., dari Penerbit Pustaka Larasan, secara lugas mengulas paradoks kehadiran AI. Di satu sisi, teknologi ini memudahkan proses penulisan; di sisi lain, ia kerap menggoda penulis untuk melompati proses berpikir kritis dan penelitian lapangan. Akibatnya, lahirlah karya-karya “cepat saji” yang miskin analisis.

“Dalam disiplin humaniora—bahasa, sastra, seni, dan budaya—buku tipis 49 halaman sering terasa terlalu dangkal. Narasi sejarah dan budaya butuh ruang. Jika dipadatkan berlebihan, maknanya bisa terdistorsi,” tegas Slamat di hadapan dosen dan mahasiswa.

Isu sensitif lain yang dibedah adalah persoalan ISBN. Slamat menekankan bahwa ISBN sejatinya diberikan gratis oleh negara melalui Perpustakaan Nasional. Praktik pemungutan biaya khusus untuk ISBN, menurutnya, patut dicurigai. Kejujuran akademik, kata dia, kini diuji oleh apa yang disebutnya sebagai “krisis ISBN”.

Indonesia, lanjut Slamat, pernah memperoleh satu juta nomor ISBN untuk jangka waktu sepuluh tahun. Namun, penggunaan masif—termasuk praktik ilegal penggandaan ISBN—membuat stok menipis pada 2021–2022. Dampaknya terasa kini: proses verifikasi makin ketat, kurasi diperketat, dan buku yang hanya “menyalin” laporan penelitian tanpa konversi naratif kerap tersingkir.

Menjawab tantangan itu, Slamat membagikan lima langkah strategis mengubah riset menjadi buku: menemukan ide yang relevan, menggali nilai sosial riset, memperkuat metodologi dan data, disiplin waktu menulis, mengonversi bahasa laporan menjadi narasi buku yang hidup, serta membangun kemitraan penerbit sejak awal.

Workshop yang dipandu Dr. I Made Adnyana, S.H., M.H. ini juga menyentuh mahasiswa. Skripsi, ditekankan Slamat, tidak seharusnya berakhir sebagai “sampah arsip”. Dengan bimbingan dosen dan editor profesional, karya itu bisa menjelma buku bermakna—tentu dengan revisi serius, bukan jalan pintas.

Ketua Panitia, Gede Sidi Artajaya, berharap workshop ini menimbulkan efek domino. “Kami ingin semangat berkarya ini menular. Dari sini harus lahir buku ajar, monograf, antologi, hingga karya fiksi berbasis riset,” ujarnya.

Sebagai penegasan komitmen, pada kesempatan tersebut delapan buku karya dosen FBS UPMI turut diluncurkan. Hal ini menjadi bukti bahwa di tengah disrupsi, riset yang jujur dan ditulis dengan sabar tetap menemukan jalannya.

Penulis: Sariasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *