Melalui Sastra, Bali Turut Warnai Multikulturalisme Indonesia

Oleh I Made Sujaya

Indonesia yang multikultural sejatinya merupakan mimpi yang harus terus dirawat. Bila pun tantangan yang dihadapi begitu kompleks dan berat, masyarakat Indonesia jangan pernah lelah memperjuangkan multikulturalisme. Pasalnya, keberagaman sebagai ciri terpenting multikulturalisme merupakan kenyataan Indonesia. Memperjuangkan multikulturalisme sama dengan memperjuangkan Indonesia.

Multikulturalisme menghendaki kesediaan untuk menghargai keberagaman. Karena itu, penghayatan secara lintas budaya, baik antaretnis, antarsuku, antaragama, maupun antargolongan penting terus diupayakan. Sastra Indonesia bisa menjadi wahana yang efektif untuk melakukan penghayatan lintas budaya dalam kerangka mengukuhkan keberagaman Indonesia. Pasalnya, sastra Indonesia menjadi semacam etalase keragaman budaya Indonesia.

Pengarang Bali

Bali turut mewarnai potret multikultural sastra Indonesia. Kontribusi Bali tidak saja ditunjukkan dengan kemunculan para pengarang etnis Bali yang menulis tema kebudayaan Bali dalam sastra Indonesia, melainkan juga menginspirasi para pengarang Indonesia dari etnis lain saat menulis dan mengangkat kehidupan masyarakat Bali dalam karya-karya mereka. Itu sebabnya, pembaca sastra Indonesia tidak saja disuguhi dengan karya sastra Indonesia tentang Bali dari sudut pandang orang Bali, juga dari sudut pandang orang non-Bali.

Karya sastra Indonesia tentang suatu kebudayaan tertentu yang ditulis oleh pengarang yang bukan pengemban kebudayaan tersebut, merupakan bentuk praktik lintas budaya dalam konteks sastra. Penghayatan lintas budaya merupakan faktor penting dalam mewujudkan masyarakat multikultural.

Bali dengan kebudayaan yang khas mencoba dihayati oleh pengarang Indonesia dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Hasil penghayatan itu lalu dituangkan dalam bentuk karya sastra. Karya sastra yang lahir dari hasil pemahaman lintas budaya semacam ini dapat digolongkan sebagai sastra lintas budaya.

Sastra Lintas Budaya

Sastra lintas budaya dengan tema kebudayaan Bali dapat dilacak sejak periode awal kelahiran sastra Indonesia. Intoyo, seorang penyair kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, menulis puisi berjudul “Pulau Bali”. Puisi empat bait yang dimuat di majalah Pujangga Baru edisi perdana ini mengungkapkan pengalaman mengunjungi Pulau Bali yang keindahan dan keasliannya membuat sang penyair kagum. Pada periode berikutnya, tidak sedikit para penyair Indonesia yang menulis puisi tentang Bali, seperti W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, Linus Suryadi AG, Acep Zamzam Noor, dan banyak penyair lain.

Dalam genre prosa juga bermunculan cerpen, roman, novel dan novelet lintas budaya tentang Bali. Pada tahun 1935, terbit roman Lejak dan Dewi Kintamani yang ditulis Soe Lie Piet, seorang pengarang keturunan Tionghoa. Roman dari kelompok ini yang kemudian cukup dikenal pembaca sastra Indonesia, yakni Noesa Penida (1949) karya Andjar Asmara dan Djangir Bali (1951) karya Nur St. Iskandar. Andjar Asmaradan Nur St. Iskandar merupakan dua pengarang Indonesia yang berlatar belakang etnis Minangkabau.

Tahun-tahun berikutnya, novel bertema atau berlatar kebudayaan masyarakat Bali yang ditulis sastrawan Indonesia dengan latar belakang kebudayaan bukan Bali masih terus bermunculan. Pertumbuhan signifikan terjadi setelah tahun 2000. Sejauh yang dapat ditelusuri, sejak tahun 1930-an hingga tahun 2016 tercatat sedikitnya ada 31 novel lintas budaya bertema Bali yang terbit. Selain berlatar etnis Tionghoa dan Minangkau, para pengarang novel lintas budaya bertema Bali itu juga berasal dari Jawa, Rote, Makasar, Lampung, dan Jakarta. Pada tahun 2016, terbit novel Jejak Dedari yang ditulis pengarang kelahiran Padang tetapi besar di Jakarta dan kini sering tinggal di Bali, Erwin Arnada. Novel yang sudah difilmkan ini mengisahkan tentang kehidupan orang-orang kolok di sebuah desa di Buleleng. Sebelumnya, Erwin juga menulis novel Rumah di Seribu Ombak yang berkisah tentang persahabatan anak Bali-Hindu dan Muslim.

Hal yang menarik dari novel-novel lintas budaya tentang Bali yakni aspek sosiologisnya, terutama bagaimana Bali direpresentasikan. Novel lintas budaya tentang Bali juga sebuah potret manusia Bali dari sudut pandang “orang lain”. Hal ini selaras dengan apa yang dinyatakan Kapuściński bahwa “orang lain“ sejatinya sebuah cermin untuk melihat diri.

Namun, lebih penting dari itu, melalui sastra lintas budaya ini, Bali menunjukkan kontribusinya turut dalam perjuangan mewujudkan masyarakat Indonesia yang multikultural.

  • Penulis adalah dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *