AROMA kopi itu tak hanya tentang rasa, tetapi juga tentang cerita. Bagi I Gede Komang Bagus Dana Swara, kerap disapa Dana (21), secangkir kopi robusta bukan sekadar minuman, melainkan cara sederhana untuk membawa nama Pupuan dikenal lebih jauh.
Mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) UPMI Bali itu lahir di Desa Padangan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, daerah yang dikenal dengan hasil kopi robustanya. Sejak lama ia melihat potensi besar di tanah kelahirannya, namun belum banyak yang benar-benar mengangkatnya sebagai identitas. Dari sinilah lahir “Cerita Kopi Pupuan”
Usaha yang ia rintis sejak 19 Februari 2024 itu bukan karena tuntutan ekonomi, melainkan karena rasa cinta. Cinta pada kopi merah yang dipetik saat matang sempurna. Cinta pada proses panjangnya mulai fermentasi selama 24 jam, dijemur di bawah matahari sekitar tujuh hari, digiling, disangrai, lalu dihaluskan menjadi bubuk dengan aroma khas yang kuat. “Menurut saya, kopi robusta Pupuan punya karakter rasa yang unik. Sayang kalau tidak diperkenalkan lebih luas,” tuturnya.
Awalnya, ia hanya memperkenalkan produknya kepada dosen di kampus. Dari dukungan sederhana itu, pintu kesempatan mulai terbuka. Ia mendapat peluang mengikuti pameran IBT UPMI Bali dalam rangkaian HUT LLDikti Wilayah VIII yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat, 12–13 Februari 2026 di Aula LLDikti Wilayah VIII. Selama dua hari pameran tersebut, antusiasme pengunjung terlihat tinggi. Di sana, untuk pertama kalinya Dana melihat orang-orang yang tidak ia kenal datang, mencicipi, lalu membeli kopinya.
“Banyak yang penasaran, lalu membeli tanpa ada paksaan. Itu momen yang sangat berkesan,” kenangnya.
Bagi Dana, kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia merasakannya sendiri. Pameran tersebut menjadi titik balik bagi perkembangan Cerita Kopi Pupuan, membuka jaringan baru, memperluas pemasaran, sekaligus membangun kepercayaan diri sebagai mahasiswa wirausaha.

Meski bahan baku kopi melimpah di daerahnya, perjalanan usaha ini bukan tanpa tantangan. Keterbatasan alat membuatnya harus bekerja sama dengan warga lokal untuk proses sangrai dan penggilingan maksimal. Ia membeli biang kopi asli, lalu mengolahnya kembali menjadi produk minuman andalan, kopi susu gula aren dengan racikan khasnya sendiri. Tantangan lainnya adalah menjaga konsistensi, terutama ketika pembeli sedang menurun. Namun baginya, kunci utamanya sederhana yaitu jangan menyerah.
“Yang penting konsisten dengan resep yang saya racik sendiri. Apa pun kendalanya, nikmati prosesnya,” ujar Dana.
Di tengah kesibukan kuliah, membagi waktu menjadi ujian tersendiri. Namun setiap kali aroma kopi menyeruak dari gelas yang ia racik, semangatnya kembali utuh. Ia tidak hanya sedang menjual minuman, tetapi sedang membawa identitas daerahnya. Langkahnya pun belum berhenti. Dalam waktu dekat, ia berencana mendaftar Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) yang diselenggarakan oleh Kemendiktisaintek.
“Jika lolos program P2MW itu dapat membantu saya mengembangkan manajemen usaha, memperkuat branding, serta memperluas pemasaran hingga ke daerah pariwisata,” harapnya.
Di sisi lain, Ketua IBT UPMI Bali, N. Putri Sumaryani, S.P., M.M.A. mengatakan keikutsertaan IBT UPMI Bali dalam pameran di LLDikti adalah wujud komitmen kampus dalam mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis kreativitas dan inovasi. Dikatakan, ajang tersebut bukan sekadar pameran, melainkan ruang tumbuh bagi mahasiswa. “Dari IBT UPMI Bali lahir wirausaha muda,” pungkas Putri.
Penulis: Mira
