Bedah Buku Tugas Akhir Mahasiswa UPMI Bali
Setelah sebelumnya diuji dalam ujian tugas akhir, dua buku hasil tugas akhir proyek inovatif karya sastra dan jurnalistik karya dua orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah (PBID), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali dibedah dalam Temu Alumni dan Bedah Buku Tugas Akhir di Auditorium Redha Gunawan, Kampus UPMI Bali, Selasa, 19 Agustus 2025. Kedua mahasiswa yang karyanya dibedah, Kadek Windari dan I Wayan Dede Putra Wiguna mengaku tegang karena bedah buku lebih menyeramkan dari ujian skripsi. Namun, keduanya mengaku keseruannya tak terlupakan.

Buku Windari yang berupa kumpulan cerpen berjudul Bapak Berdiri di Ambang Pintu dibedah dosen Undiksha, I Wayan Artika. Sementara buku Dede berupa kumpulan berita kisah berjudul Sukawati, Ya Seni dibedah Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali sekaligus Redaktur Pelaksana Bali Post, I Nyoman Winata. Bedah buku dipandu dosen UPMI Bali yang juga wartawan, I Made Adnyana.
“Saat sidang, saya diuji oleh Pak Gde Aryantha, Pak Made Sujaya, Pak Adnyana. Itu saja sudah menyeramkan. Sekarang ini ditambah lagi bedah buku, ngumpul semua wartawan-wartawan senior,” ujar Dede saat diberikan kesempatan menyampaikan tanggapannya saat diskusi.
Windari menambahkan, meskipun menyeramkan, namun dia senang karena mendapatkan pengalaman berkarya sekaligus bisa menghasilkan buku. Hal itu dinilainya sangat seru dan karena itu sulit untuk dilupakan.
Baik Artika maupun Winata mengapresiasi buku hasil tugas akhir karya kedua mahasiswa UPMI Bali. Menurut keduanya, dalam waktu singkat, keduanya bisa menghasilkan buku dan dibimbing oleh sastrawan sekaligus wartawan senior.
“Wartawan yang bisa menulis feature berarti selevel di atas wartawan biasa. Jadi, ini luar biasa, mahasiswa bisa menghasilkan buku kumpulan feature. Mereka yang sudah menjadi wartawan selama belasan atau puluhan tahun pun belum tentu bisa menulis feature dengan baik,” kata Winata.
Artika menilai apa yang dilakukan UPMI Bali sebagai langkah berani dan maju. Kata Artika, siapa pun yang memahami kebijakan perguruan tinggi akan mengakui hal ini sebagai suatu kemajuan dalam proses pendidikan di perguruan tinggi sehingga patut diapresiasi.
Sastrawan sekaligus wartawan Gde Aryantha Soethama yang turut menjadi pembimbing dan penguji karya kedua mahasiswa UPMI Bali tersebut menuturkan dirinya mau terlibat dalam program ini karena menilai hal itu sesuatu yang menarik, konkret dan bukan omon-omon.
“Melalui tugas akhir nonskripsi ini, saya berharap keduanya menjadi guru yang juga menulis. Saya lihat guru-guru itu menyuruh anak-anaknya menulis tapi dia sendiri tidak menulis. Windari dan Dede dapat menjadi contoh guru yang menulis,” kata sastrawan peraih penghargaan Khatulistiwa Award itu.
Wakil Rektor I UPMI Bali, Ida Ayu Agung Ekasriadi menyebut buku hasil tugas akhir mahasiswa Prodi PBID yang melalui proses yang tidak mudah sebagai bukti kualitas lulusan UPMI Bali. “Inilah makna lulusan tanpa skripsi, bukan tanpa perjuangan, melainkan dengan karya yang dapat dibaca, dinikmati, dan diwariskan,” katanya.
Di akhir kegiatan bedah buku, Dekan FBS UPMI Bali, I Made Sujaya menyampaikan harapannya agar program tugas akhir nonskripsi bisa terus berlanjur, tidak aja di UPMI Bali, tetapi juga di perguruan tinggi lainnya di Bali. Dia mengajak perguruan tinggi lain juga bisa bergandengan tangan bersama mencari formula untuk menguatkan tugas akhir nonskripsi, khususnya proyek inovatif karya sastra dan jurnalistik, proyek inovatif seni rupa, maupun proyek inovatif seni pertunjukan.
Sebelum bedah buku dilakukan pengukuhan pengurus Ikatan Alumni Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, Ikatan Alumni Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister serta Ikatan Alumni Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah oleh Dekan FBS UPMI Bali, I Made Sujaya. Selain itu juga dilakukan penandatangan kerja sama antara FBS UPMI dengan PWI Bali dan Hiski Bali serta penandatangan IA dengan Undiksha dan PWI Bali.
- Penulis: Sariasih
- Penyunting: Sujaya